Faktor Pertumbuhan Dan Perkembangan Bahasa Indonesia

FAKTOR PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA


1. Faktor Ekonomi

     Contoh yang paling mudah diamati adalah bahasa Inggris. Pada masa jayanya, bahasa Inggris dengan mottonya yang terkenal britain rules the waves menguasai perdagangan tidak saja di wilayah samudera luas, melainkan juga di daratan. Armada perdagangannya mengangkut barang dagangan ke seluruh penjuru dunia sekaligus dengan penggunaan bahasa Inggris dalam percaturan perdagangan itu. Ketika mereka meninggalkan wilayah yang pernah di kuasainya, bahasanya di tinggalkan di tempat itu, dalam arti, bahasa Inggris tetap dipergunakan  oleh masyarakat di wilayah tersebut meskipun wilayah itu kemudian telah menjadi suatu negara merdeka.

     Menilik  proses penyebaran bahasa Inggris itu, tampaknya bahasa Melayu pun berkembang melalui mekanisme yang tidak jauh berbeda. Sejarah penyebaran bahasa Melayu diketahui berawal dari masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya di Nusantara yang bersamaan waktunya dengan ketenaran nama kota Melaka di Semenanjung Melaka. Masyarakat di wilayah Sriwijaya sangat gemar berdagang untuk mata pencaharian mereka, sehingga Bandar Sriwijaya menjadi sangat terkenal dan menjadi tujuan persinggahan para pedagang dari seluruh gugusan kepulauan di Nusantara, yaitu di antaranya Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Madura. Komunikasi antar pedagang tersebut tentu saja melibatkan pula penggunaan bahasa Melayu. Ketika pedagang pendatang itu kembali ke daerah asalnya, mereka membawa serta bahasa Melayu. Dengan demikian secara berangsur-angsur tersebarlah bahasa Melayu itu ke wilayah di luar tempat asalnya. Lambat laun bahasa melayu menjadi bahasa perhubungan atau lingua franca (bahasa yang dipergunakan secara luas oleh masyarakat yang berbahasa lain dalam perdagangan) antar pedagang dan kalangan masyarakat lainnya di seluruh Nusantara.

2. Faktor Agama

     Bahasa Melayu tersebar sebagai lingua franca tidak hanya karena masyarakat Sriwijaya gemar berdagang dan Bandar Sriwijaya terkenal sebagai bandar perdagangan yang besar saja. Sriwijaya juga dikenal oleh bangsa-bangsa lain karena pesatnya perkembangan agama Budha di wilayah tersebut. Para pengunjung yang bermaksud mempelajari agama Budha, tentu terlebih dahulu harus menguasai bahasa Melayu.

    Pertumbuhan dan perkembangan bahasa Melayu makin jelas karena peninggalan-peninggalan kerajaan Islam, yaitu tulisan yang berupa syair pada batu nisan di Minje Tujoh, Aceh, berangka tahun 1380 M. Syair tersebut  adalah model syair tertua dalam bahasa Melayu di Indonesia. Selain itu, ada pula hasil sastra abad 16 dan 17 yaitu Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Tajussalatin dan Bustanussalatin.

3. Faktor Pendidikan

     Dari aktivitas perdagangan, wilayah Nusantara dikenal memiliki hasil rempah-rempah. Orang Eropa menjelajahi samudera untuk mencapai wilayah Nusantara karena mereka  berupaya mendapatkan rempah-rempah yang diketahuinya terdapat di kepulauan Nusantara. Dalam kunjungannya itu, mereka mendapati kenyataan bahwa bahasa Melayu telah menjadi bahasa lingua franca antar-masyarakat Nusantara. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya beberapa kata Melayu di daerah Tidore pada tahun 1552 oleh Pigafetta, seorang pengikut Magelhaens, ketika mereka mengelilingi dunia. Pengakuan yang sama diberikan oleh J.H Linschoten, seorang pelaut Belanda yang datang 60 tahun kemudian.

     Dengan demikian, orang asing yang datang ke wilayah Nusantara dengan maksud berdagang, seperti bangsa Portugis dan Belanda, harus menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa perantara jika mereka berhubungan dengan penduduk atau raja-raja setempat. Kunjungan yang semula dimaksudkan untuk berdagang itu,  lambat laun menumbuhkan hasrat untuk menguasai dan mengembangkan wilayah kekuasaan. Ketika kekuasaan mereka semakin mantap, mereka merasa perlu mendirikan sekolah-sekolah untuk mendapatkan tenaga kerja dari penduduk setempat dengan keterampilan minimal. Melalui sekolah-sekolah yang diselenggarakan itu mereka memperoleh pasokan tenaga kerja untuk menggarap lahan pada perkebunan-perkebunan yang dikuasainya. Bahasa pengantar yang dipergunakan dalam aktivitas sekolah adalah bahasa Melayu. Pada akhirnya bahasa resmi pemerintah pun menggunakan bahasa Melayu.

4. Faktor Politik

    Dari aktivitas pendidikan yang diperoleh melalui sekolah-sekolah bumi-putera yang didirikan oleh bangsa asing tersebut, para pemuda bumi-putera akhirnya menyadari bahwa bangsanya sedang dijajah bangsa asing, bangsa yang semula hendak membeli rempah-rempah. Seiring dengan timbulnya kesadaran itu, mereka juga menyadari bahwa bahasa adalah salah satu alat untuk menggerakkan dan mempersatukan segala lapisan dan golongan masyarakat serta membangkitkan semangat masyarakat luar agar bersedia berjuang memerdekakan bangsa dan negara dari penjajahan bangsa asing itu. 

     Dengan maksud tersebut, terpilihlah bahasa Melayu untuk dijadikan bahasa perhubungan antar-mereka. Hasrat tersebut semakin  diperkokoh dengan keinginan untuk mengganti nama dari bahasa perhubungan itu, karena mereka menyadari bahwa bahasa bahasa Melayu bukan hanya milik mereka. Penggantian nama itu demikian pentingnya karena juga berarti pengganti semangat dan penggantian jiwa, yang di lakukan pada Kongres Pemuda di Jakarta 28 Oktober 1928. Salah satu keputusan Kongres Pemuda itu adalah "Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia".

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »